Odaimoku: Makna dan Manfaatnya.
I
Tujuh Huruf Odaimoku
"Namu-myoho-renge-kyo." Inilah Odaimoku. Di dalam Odaimoku ini bersemayam jiwa Buddha Sakyamuni. Nichiren Shonin mempertaruhkan nyawanya demi penyebaran Odaimoku ini.
Ketika kita melafalkan kalimat ini, kita dianugerahi manfaat yang tak ternilai harganya. Odaimoku tidak akan banyak berarti jika kita tidak melafalkannya. Hal ini dapat diibaratkan seperti kekayaan besar milik orang lain. Kekayaan itu tidak berarti apa-apa bagi kita karena kita tidak memilikinya.
Kebenaran Alam Semesta
Saat kita melafalkan Odaimoku, kita menyerahkan diri pada kebenaran alam semesta yang agung secara aktif maupun pasif.
"Namu" berarti "puja-puji bagi...!" Ketika kita mengucapkan kata "Namu," kita berjanji untuk "berpegang teguh" pada Odaimoku "seumur hidup."
"Myo-ho" berarti "dharma yang menakjubkan," yaitu kebenaran tertinggi dari alam semesta tempat kita tinggal. Bumi mengelilingi matahari. Hidup kita ini terbatas. Ini adalah kebenaran mutlak dari alam semesta.
"Renge" adalah bunga teratai yang mekar dengan murni di kolam yang berlumpur. Oleh karena itu, "Myoho-renge-kyo" dapat diibaratkan seperti bunga teratai yang mekar dari air berlumpur.
Gelar Kehormatan
"Odaimoku" berarti "gelar yang dihormati" dari sebuah sutra. Oleh karena itu, saat kita mengucapkan "Namu-myoho-renge-kyo," kita sedang melafalkan keseluruhan Sutra Teratai, bahkan jika kita tidak menyadarinya.
"Namu-myoho-renge-kyo" terdiri dari tujuh karakter Mandarin. Sutra Teratai dalam versi bahasa Mandarin memuat sekitar 70.000 karakter Mandarin. Ketika kita melafalkan ketujuh kata Odaimoku ini sebanyak 10.000 kali, itu setara dengan membaca seluruh Sutra Teratai yang terdiri dari 70.000 karakter tersebut, sebanyak satu kali.
Satu Juta Kali
Pada tahun 1980, kami memulai praktik melafalkan Odaimoku satu juta kali di kuil kami (Kuil Hokkeji, Prefektur Oita, Kyushu, Jepang). Delapan orang mengikuti praktik ini pada awalnya.
Tujuan kami adalah melafalkan Odaimoku secara bersama-sama sebanyak satu juta kali (setara dengan membaca Sutra Teratai 100 kali) oleh kedelapan orang ini. Kami pikir akan membutuhkan waktu lama untuk mencapai tujuan ini, namun yang mengejutkan, satu orang dapat segera mencapai tujuan ini.
Dalam delapan tahun, total 148 orang bergabung dalam praktik ini, dan jumlah total gabungan pelafalan kami mencapai 100 juta kali. Saat ini, total pelafalan Odaimoku telah melampaui 220 juta kali, sehingga kami perlu mengubah nama proyek kami menjadi "Praktik Melafalkan Odaimoku Tak Terhingga Kalinya." Dengan demikian kami terus melafalkan Odaimoku.
Keberadaan yang Ditopang
Kami yang berpartisipasi dalam praktik pelafalan Odaimoku percaya bahwa kami tidak hidup atas kemampuan kami sendiri, melainkan keberadaan kami ini ditopang. Justru karena hidup kita ditopanglah maka kita dapat melafalkan Odaimoku. Dan kami sepenuhnya menyadari bahwa melafalkan Odaimoku berarti mempraktikkan Sutra Teratai.
Praktik pelafalan Odaimoku diadakan setiap bulan di kuil-kuil Nichiren di seluruh Jepang dan juga di luar negeri. Ketika kita mengikuti praktik ini, kita akan selalu menyadari bahwa keberadaan kita di alam semesta yang agung ini dimungkinkan karena kita ditopang. Mari kita mulai dengan melafalkan Odaimoku!
II
Dilahirkan Kembali
Ketika kita melafalkan Odaimoku, kita mencapai kehidupan yang baru. Setelah itu kita memulai hidup kita dari awal lagi. Dikatakan bahwa "myo" (keajaiban) berarti resusitasi: dihidupkan kembali atau dilahirkan kembali.
Berikut ini adalah kisah seorang pria berusia 78 tahun, yang tinggal di sebuah kota terpencil di Kyushu. Istrinya yang sudah lanjut usia memiliki keyakinan mendalam pada Odaimoku dan pelafalan Odaimoku telah menjadi kebiasaan sehari-harinya.
'Tidak Perlu'
Namun, suaminya sering berkata, "Tidak ada gunanya melafalkan Odaimoku karena saya tidak melakukan kejahatan apa pun." Meskipun begitu, ia mulai mengunjungi kuil seiring bertambahnya usia.
Hal ini terjadi pada suatu hari di bulan Maret. Salju turun bahkan setelah minggu ekuinoks musim semi. (Di Jepang, kami berkata, "Cuaca panas atau dingin tidak akan bertahan melewati ekuinoks.") Pria tua itu mengunjungi kuil saya dan sedang bermain dengan putri saya yang berusia dua tahun.
Setelah sekitar satu jam, putri saya berjalan tertatih-tatih ke kamar saya sambil berkata, "Kakek sedang tidur." Dengan perasaan waswas, saya bergegas ke Aula Utama kuil kami dan menemukan pria tua itu terbaring hampir tak bernapas.
'Dia Sudah Meninggal'
Saya segera menelepon dokter keluarganya dan dua atau tiga dokter lainnya. Dua dari mereka bergegas ke kuil kami. Kedua dokter tersebut memeriksa pupil matanya, dan merasakan denyut nadinya. Keduanya menyatakan, "Dia sudah meninggal."
Pada hari itu, kebetulan ada sekitar 15 anggota kuil yang hadir di dalam kuil. Mereka berkumpul di sana untuk melakukan perjalanan kelompok ke Gunung Minobu, tempat Kuil Kuonji, kuil utama Sekte Buddhisme Nichiren, berada.
'Betapa Bahagianya'
Istri pria tua itu, yang ada di dalam kelompok tersebut menyatakan, "Betapa bahagianya suamiku! Betapa beruntungnya dia mengakhiri hidupnya di sebuah kuil, terutama di depan patung Nichiren Shonin!"
Tanpa ada yang mengusulkan, mereka secara spontan mulai melafalkan Odaimoku. Mengambil drum tangan mereka, mereka semua melafalkan Odaimoku dengan lantang diiringi tabuhan drum. Setelah sekitar 15 menit, ketika mereka telah melafalkan Odaimoku sekitar tiga ratus kali, pria tua itu sadar kembali. Ia tidak dirawat di rumah sakit tetapi tinggal di kuil kami selama sebulan, dan dikunjungi oleh dokter setiap hari.
Kemudian ia kembali ke rumah, pulih sepenuhnya. Tanpa menderita efek samping apa pun, pria tua itu terus mengunjungi kuil kami setiap hari selama delapan tahun sejak saat itu.
'Suara Jauh'
Beberapa tahun setelah kejadian itu, saya bertanya kepadanya tentang kebangkitannya. "Saya mulai mendengar suara drum dari kejauhan. Saat mencoba mendekati suara drum itu, saya sadar kembali," katanya.
Pengalamannya menunjukkan bahwa Odaimoku dapat memberikan kesempatan hidup baru bagi seseorang yang sudah "meninggal". Namun, yang lebih penting adalah Odaimoku dapat membuat kita, manusia yang masih hidup, untuk "lahir kembali" dan menjalani kehidupan yang baru.
III
'Bakti Anak Sangatlah Tinggi...'
Ketika kita melafalkan Odaimoku, kita sedang mempraktikkan bakti kepada orang tua kita bahkan jika kita tidak menyadarinya. "Bakti anak jauh lebih tinggi daripada langit dan lebih tebal daripada bumi," tulis Nichiren Shonin. Dikatakan bahwa Buddha Sakyamuni duduk bermeditasi selama 90 hari dan mengkhotbahkan "Sutra Rasa Syukur" untuk Maya, ibunya.
Sebuah patung Nichiren Shonin, yang diabadikan di Kuil Ikegami Honmonji di Tokyo dan ditetapkan sebagai harta nasional, diketahui menyimpan beberapa helai rambut ibu Nichiren Shonin. Helai rambut tersebut dipasang pada pengusir lalat milik pendeta yang dipegang di tangan kanan patung tersebut.
Kuil itu berdiri di lokasi tempat Nichiren Shonin wafat.
Dikatakan bahwa Nichiren Shonin diberikan untaian rambut tersebut oleh ibunya ketika ia memasuki Kuil Seichoji di Kominato, yang saat ini merupakan Prefektur Chiba, pada usia 11 tahun untuk memulai kehidupannya sebagai pendeta. Ia membawanya sepanjang hidupnya.
Di Puncak Gn. Minobu
Sebagai ungkapan membalas budi orang tuanya, Nichiren Shonin di tahun-tahun terakhirnya sering mendaki puncak Gn. Minobu dan membungkuk ke arah makam orang tuanya. Membalas budi orang tua atau berbakti kepada orang tua sulit bagi kita untuk mencapainya. Berikut adalah kisah seorang gadis yang mempraktikkan baktinya tanpa menyisakan apa pun.
Masue-chan
Masue-chan adalah putri berusia 16 tahun dari pasangan yang mengelola penginapan Jepang yang terletak di tepi sungai di seberang kuil saya.
Ayahnya, yang bekerja di kantor pemerintah prefektur Oita pada siang hari, tiba-tiba pingsan di kantornya. Ia segera dirawat di rumah sakit namun tetap tidak sadarkan diri dan dalam kondisi sangat kritis. Istrinya bergegas ke rumah sakit dan terus mengawasi suaminya, tanpa memikirkan penginapannya sama sekali.
Pasangan itu memiliki tiga anak perempuan. Anak perempuan tertua, yang sudah menikah, tinggal jauh. Anak perempuan kedua juga sedang tidak di rumah, karena sedang kuliah. Jadi Masue-chan adalah satu-satunya orang di rumah yang mampu mengurus penginapan. Gadis kecil yang menawan itu mengunjungi saya di kuil dan berkata sambil menangis, "Saya akan melakukan apa saja yang saya bisa. Tolong selamatkan nyawa ayah saya."
"Saya bukan dokter," jawab saya, "jadi saya tidak dapat menyembuhkannya. Tetapi saya dapat meyakinkanmu bahwa ayahmu akan diselamatkan jika kamu memanjatkan doa yang sungguh-sungguh untuk kesembuhannya."
Berdoa 100 Kali
Mulai keesokan harinya, Masue-chan memulai kebiasaan harian "berdoa 100 kali" di kuil saya. Sebelum berangkat sekolah ia akan mengunjungi kuil kami dan mengelilingi patung Hariti (dewi anak-anak) 100 kali tanpa alas kaki, sambil melafalkan Odaimoku. Ia melanjutkan praktik ini selama 21 hari, bahkan saat hujan lebat atau angin kencang.
Ritualnya menjadi sangat terkenal di sekolahnya, dan ia sering dicemooh oleh teman-teman sekolahnya. Praktik ohyakudo (seratus kali) selama 21 hari ternyata tidak cukup. Namun anehnya, ayahnya sadar kembali setelah ia menyelesaikan praktik 21 hari tersebut sebanyak tiga kali.
Perilaku bakti Masue-chan kepada ayahnya patut dikagumi. Namun yang lebih penting lagi adalah memberikan persembahan kepada orang tua kita setelah mereka tiada sebagai ungkapan membalas budi yang telah mereka berikan kepada kita.
IV
Berdoa untuk Orang Lain
Ketika kita melafalkan Odaimoku, secara alami kita akan dianugerahi pahala dan manfaat yang nyata.
Namun, manfaat tersebut tidak akan diberikan kepada kita selama kita hanya ingin mendapatkannya untuk diri kita sendiri. Keinginan kita tidak akan terwujud satu per satu betapapun kerasnya kita melafalkan Odaimoku untuk diri kita sendiri. Namun, keinginan kita akan menjadi kenyataan ketika kita melafalkan Odaimoku demi orang lain. Di sini, saya ingin memperkenalkan kisah dua orang yang mendapatkan kembali penglihatan mereka.
Hampir 45 tahun yang lalu saat saya tinggal di Kuil Honkoji, Prefektur Oita, Kyushu sebagai biarawan pemula. Ibu Kume Hatano, yang saat itu berusia 90 tahun, menceritakan kisah berikut kepada saya.
Beberapa bulan sebelum masuk sekolah dasar, Kume tiba-tiba kehilangan penglihatannya karena alasan yang tidak diketahui. Ia pergi ke dokter mata setiap hari, namun sia-sia. Ayahnya, Kisaku, teringat bahwa sebuah mandala Odaimoku yang ditulis oleh Nitcho Shonin, kepala pendeta ke-11 Minobusan, kuil utama Nichiren Shu, diabadikan di kuil tersebut.
Nitcho Shonin terkenal atas penyembuhan penyakit mata. Dipercaya bahwa jika kita berdoa kepada pendeta ini demi penyembuhan penyakit mata, doa kita akan dikabulkan.
Odaimoku
Kisaku membawa putrinya ke dokter mata setiap hari. Setelah menyelesaikan pekerjaan hariannya, ia pergi ke kuilnya dan duduk di depan mandala Nitcho Shonin, lalu terus melafalkan Odaimoku hingga larut malam tanpa menghiraukan waktu yang berlalu.
Ia memutuskan untuk memanjatkan doa selama tiga minggu kepada Nitcho Shonin agar penglihatan putrinya pulih, dan ini dilakukan sebanyak tiga putaran. Jika Nitcho Shonin tidak mengabulkan doanya, pikirnya, ia akan mencongkel matanya sendiri dan mempersembahkannya kepada Nitcho Shonin. Ia selalu membawa pisau untuk tujuan tersebut.
Ajaibnya, pada pagi hari setelah selesainya pelafalan Odaimoku selama tiga minggu dalam tiga putaran, putrinya mendapatkan kembali penglihatannya, meskipun masih lemah. Penglihatannya pulih sepenuhnya sebelum ia masuk sekolah dasar. Di kemudian hari, ia lulus dari sekolah menengah khusus wanita dan menjadi guru sekolah. (Pada masa itu, tidak banyak wanita yang belajar hingga sekolah menengah.)
Dalam sutra-sutra, kita menemukan frasa "enam organ atau indra yang murni." Mereka adalah: mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Jika organ-organ ini menjadi murni, kita akan pantas mendapatkan umur panjang. Di antaranya, anugerah mata adalah yang paling berharga.
Orang kedua yang akan dibahas adalah Ibu Fumika Uchikawa, berusia 70 tahun. Setelah ia menikah, ibu mertuanya mengajarinya tentang manfaat Odaimoku. Ibu Uchikawa memiliki penglihatan yang buruk sejak masa mudanya. Ia menjadi hampir buta saat ia bertambah tua. Bahkan dokter mata pun tidak dapat menemukan alasannya. •
Kuil Kakurimbo
Ibu tirinya menyarankan agar ia mengunjungi Kuil Kakurimbo yang terletak di Higashidani di Gn. Minobu, tempat Nitcho Shonin diabadikan. Ia mengunjungi kuil ini lima kali, menempuh perjalanan jauh dari Kyushu.
"Kebutaan saya adalah takdir saya," kata Ibu Uchikawa kepada saya. "Namun, jika saya tetap buta, orang-orang di sekitar saya akan sangat terganggu. Oleh karena itu saya berdoa kepada Nitcho Shonin agar penglihatan saya pulih agar saya tidak merepotkan orang-orang di sekitar saya karena kebutaan ini. Jika saya berdoa demi diri saya sendiri, saya tidak akan mendapatkan kembali penglihatan saya."
Manfaat Odaimoku diberikan sebagai hasil dari praktik pelafalan yang tulus. Mari kita lafalkan Odaimoku.
Catatan editor: Nitcho Shonin (1422-1500), kepala pendeta ke-11 Minobusan, mengemban jabatan tersebut pada tahun 1462. Selama 37 tahun masa pengabdiannya di Minobusan, ia memperbarui bangunan kuil, menetapkan sistem ritual bulanan dan tahunan, dan menulis banyak tesis mengenai ajaran Sutra Teratai dan Nichiren Shonin. Di tahun-tahun terakhirnya ketika penglihatannya menurun, ia memanjatkan doa kepada Nichiren Shonin agar penglihatannya pulih. Dalam doanya, ia berjanji bahwa jika penglihatannya pulih, ia akan melakukan yang terbaik bagi mereka yang menderita masalah mata. Dengan demikian, penglihatannya pun pulih.
V
Praktik Bodhisattva
Saat kita melafalkan Odaimoku, kita harus sepenuhnya sadar bahwa kita melakukannya, bukan untuk kepentingan kita sendiri, melainkan demi orang lain.
Praktik Sutra Teratai adalah praktik Bosatsu-gyo (bosatsu berarti bodhisattva; gyo berarti praktik). Ini adalah praktik Kendaraan Besar (Mahayana).
Kendaraan Besar bukanlah kendaraan untuk satu orang. Ini adalah kendaraan yang memuat sebanyak mungkin orang, yang menuju dunia pencerahan, yaitu pencapaian Kebuddhaan.
Ketika banyak orang berkumpul, konflik secara alami akan terjadi karena perbedaan pendapat dan alasan lainnya.
Kita harus memberikan ruang bagi orang lain, bertindak dengan mempertimbangkan orang lain. Perilaku ini merupakan praktik jalan bodhisattva, dengan mempertimbangkan sudut pandang dan keadaan orang lain.
Hal ini terjadi sebelum saya memasuki aragyo, praktik pertapaan selama 100 hari, pada tahun 1950. Ibu Ino Watanabe, istri seorang petani, jatuh sakit.
Enam Orang Anak
Mereka memiliki enam anak kecil. Bapak Senji Watanabe, suaminya, mengunjungi saya di kuil dan berkonsultasi dengan saya, mengeluh bahwa terlalu berat baginya untuk mengurus enam anak sambil bertani sebagai pekerjaannya.
Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk mereka. Saya tidak tahu bagian sutra mana yang harus kami baca untuk mendoakan kesembuhan penyakit istrinya, karena itu terjadi sebelum saya mempelajari hal-hal tersebut selama mengikuti praktik aragyo.
Namun, saya memutuskan untuk membaca berkali-kali: "Sutra ini adalah obat yang baik bagi dunia. Jika seseorang jatuh sakit dan kebetulan mendengarkan sutra ini, penyakitnya seketika hilang dan ia tidak akan menjadi tua, memperoleh keabadian." (Bab XXIII: Keberadaan Asli Yakuo Bosatsu atau Bodhisattva Raja Pengobatan) dan mempraktikkan pelafalan Odaimoku bersama mereka. Istrinya pun sembuh.
Beberapa tahun kemudian, petani tersebut meninggal dunia. Ketika saya mengunjungi rumahnya untuk ibadah malam, saya melihat Noriko-chan, cucu perempuannya, sangat depresi.
Dalam upaya untuk menyemangatinya, saya berkata kepadanya, "Kakekmu sangat baik hati, bukan?"
Cucunya kemudian menjawab, "Kakek membelikan saya mobil merah ini pada musim semi ini. Ia mempraktikkan pelafalan Odaimoku, setiap pagi dan sore, berdoa agar saya tidak terlibat kecelakaan mobil." Saat mengatakan itu, ia bercucuran air mata.
Anggota yang Taat
Demikianlah petani ini melafalkan Odaimoku untuk istrinya saat ia masih muda, dan untuk cucu perempuannya saat ia tua. Ia adalah anggota yang taat dari perkumpulan pelafalan Odaimoku di kuil saya.
Saya terdorong ke jurang maut akibat penyakit disentri saat saya duduk di kelas empat sekolah dasar. Saya mendapat suntikan garam di paha. Saya ingat suntikan pertama. Namun, pada suntikan kedua, saya hampir kehilangan kesadaran.
Tidak ada yang percaya saya akan terselamatkan. Demam yang sangat tinggi itu berakibat fatal, pikir mereka. Orang tua saya memilih rumah mereka sendiri, alih-alih rumah sakit, sebagai tempat saya mengembuskan napas terakhir. Saya diberi tahu setelah saya dewasa bahwa nenek saya memanjatkan doa, dengan berkata, "Saya akan menyerahkan nyawa saya jika cucu saya diselamatkan."
Beberapa bulan setelah saya sembuh, nenek saya meninggal dunia, terjatuh tepat di depan mata saya.
Berdoa untuk orang lain adalah perbuatan yang murni.
VI
Menebus Dosa
Saat kita melafalkan Odaimoku, kita berdoa untuk menebus dosa-dosa kita.
Pendeta yang terlibat dalam pertapaan aragyo memercikkan air ke tubuh mereka sendiri sebanyak tujuh kali sehari selama 100 hari di musim terdingin di Jepang.
Praktik memercikkan air dimulai pada pukul tiga pagi, dan praktik memercikkan air yang terakhir dan ketujuh pada hari itu dilakukan pada pukul sebelas malam.
"Biarlah dosa-dosaku ditebus!" seru mereka dengan lantang saat mereka menyiramkan berember-ember air ke kepala mereka, di tengah terpaan angin dingin yang membekukan.
Semakin dingin angin berembus, semakin kuat kesadaran mereka bahwa mereka sedang melaksanakan praktik pertobatan dan penebusan dosa.
Sambil menyiramkan air dingin ke kepala dan tertiup angin dingin, para praktisi sering bertanya-tanya perbuatan salah apa yang telah mereka lakukan sehingga mereka harus terlibat dalam praktik pertapaan yang begitu keras. "Kita tidak dapat menghindarinya karena kita telah secara sukarela mengikuti praktik ini," kata mereka pada diri mereka sendiri.
Kesalahan Besar
Faktanya adalah bahwa kita melakukan kesalahan-kesalahan besar dalam kehidupan kita sehari-hari meskipun kita tidak menyadarinya dan bahkan jika kita tidak diadili atas perbuatan-perbuatan salah ini.
Sebagai contoh, kita dipenuhi dengan keserakahan, kemarahan, keluhan, dan berbagai perasaan serta pikiran jahat lainnya. Perasaan dan pikiran negatif ini menyebabkan penderitaan bagi orang lain.
Kita juga harus menyadari bahwa kita merenggut nyawa makhluk hidup lainnya. Ini terjadi semata-mata karena kita hidup. Di daerah perkotaan, kita jarang menemukan semut. Hal ini membuktikan bahwa kita membunuh begitu banyak makhluk hidup.
Mereka yang melafalkan Odaimoku dikatakan akan menikmati umur panjang. Ini karena pikiran orang-orang tersebut disucikan oleh kebajikan Odaimoku.
Jika kita meminum air yang kotor, kita akan jatuh sakit. Kita butuh air bersih.
Kita hendaknya belajar dari sebuah kalimat di Sutra Teratai. "Janganlah terinfeksi oleh perbuatan-perbuatan jahat dunia, sama seperti bunga teratai yang mekar di atas air kolam yang berlumpur."
Ibu Yoshie Ono
Berikut adalah kisah Ibu Yoshie Ono, yang menikah dengan keluarga yang mendirikan kuil saya, dan ia masih dalam kondisi sangat baik pada usia 96 tahun tepat sebelum ia meninggal dunia.
Keluarga ayahnya dulunya adalah tuan tanah besar, yang bahkan memiliki lahan kastil. Namun kekayaan keluarganya telah menurun. Pada masa generasi ayahnya, sebidang tanah luas milik keluarga itu telah menyusut hanya menjadi lokasi tempat eksekusi yang terletak di ujung barat kompleks kastil.
Ayahnya telah membangun sebuah kuil kecil di kompleks tersebut untuk peristirahatan jiwa para leluhurnya dan di sana ia terlibat dalam praktik Buddhis. Ia telah membangun kuil ini di bawah bimbingan seorang pendeta.
Pendeta tersebut menyarankan ayah Ibu Yoshie untuk membangun sebuah kuil ketika ia berkonsultasi mengenai cara mengompensasi perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan oleh para leluhurnya.
Pendeta tersebut menginstruksikannya untuk membangun sebuah aula agar tidak hanya dirinya dan keluarganya yang dapat melakukan praktik di sana, tetapi juga banyak orang di sekitarnya dapat mengunjungi tempat itu dan menerima ajaran-ajaran Buddhisme.
Ibu Yosie Ono, putrinya, bertekad bahwa dosa para leluhurnya tidak boleh diwariskan ke generasi penerus di masa mendatang. Ia mendedikasikan dirinya pada praktik pelafalan Odaimoku.
Sifat Kebuddhaan
Saat kita melafalkan Odaimoku, gelar suci tersebut menghapuskan efek perbuatan buruk, dan Para Buddha akan bekerja serta benih Sifat Kebuddhaan yang dimiliki oleh kita masing-masing akan tumbuh lebih besar, yang akan menahan orang-orang dari melakukan perbuatan jahat. •
Dan kita cenderung menanggapi segala sesuatu dengan cara yang menguntungkan serta merenungkan perbuatan kita. Perubahan pikiran ini terjadi secara sangat alami layaknya embun yang lenyap saat matahari terbit.
Catatan Editor: Dai-aragyo (praktik pertapaan yang sangat keras) diadakan setiap tahun di Kuil Hokekyoji, Ichikawa, Prefektur Chiba. Berlangsung selama 100 hari, dimulai pada tanggal 1 November dan berakhir pada tanggal 10 Februari. Setiap tahunnya, sekitar 150 pendeta Nichiren-shu berpartisipasi dalam praktik ini.
VII
Melafalkan Odaimoku Berulang Kali
Ketika kita melafalkan "Namu-myoho-renge-kyo" berulang-ulang, Odaimoku yang kita ucapkan mulai menunjukkan arti sebenarnya.
Sering kali diklaim bahwa, "Tidak peduli seberapa sering kita melafalkan Odaimoku, praktik kita tidak akan berguna jika kita tidak melafalkannya dari hati," "Kita tidak akan dapat menerima manfaat Odaimoku hanya karena kita melafalkan Odaimoku berulang-ulang," atau "Bahkan jika kita melafalkan Odaimoku hanya tiga kali, sangatlah penting untuk melafalkannya dengan sepenuh hati."
Oleh karena itu, beberapa orang menyangkal adanya manfaat dari melafalkan Odaimoku berulang kali. Apakah klaim ini berdasar? Saya rasa tidak.
Latihan yang Diulang-ulang
Latihan yang berulang-ulang akan membuahkan hasil yang baik. Ini adalah hal yang wajar dalam dunia olahraga. Saat kita menantang diri berulang kali, kita dapat mencapai standar pencapaian yang lebih tinggi di bidang seni belajar dan segala aktivitas lainnya. Ini juga berlaku untuk "Dharma yang Menakjubkan" atau "myoho" dari "namu-myoho-renge-kyo," yakni Odaimoku.
Sekitar dua ratus orang berpartisipasi dalam "Praktik Melafalkan Odaimoku Tak Terhingga Kalinya" di kuil kami. Salah satu dari mereka sejauh ini telah melafalkan Odaimoku sebanyak delapan juta kali.
Lebih dari 16 Tahun
Praktik ini dimulai pada tanggal 1 Januari 1980, yang berlangsung lebih dari 16 tahun. Ini berarti orang ini telah melafalkan Odaimoku sekitar seribu lima ratus kali setiap harinya. Tiga orang lainnya hampir mencapai angka delapan juta kali.
Di kuil kami, kami melafalkan Odaimoku tiga ratus kali di pagi hari, dan lima ratus kali di malam hari. Selain praktik harian ini, orang-orang berkumpul empat kali sebulan untuk "praktik seribu Odaimoku." Orang yang telah melafalkan Odaimoku delapan juta kali sejauh ini tidak pernah melewatkan pertemuan-pertemuan ini. Jadi orang ini pasti juga melafalkannya setiap hari sekitar tujuh ratus kali di rumahnya sendiri.
100 Kali dalam 30 Menit
Saya sarankan agar orang-orang melafalkan Odaimoku seratus kali dalam waktu sekitar lima menit. Dengan demikian, dibutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk melafalkan Odaimoku tujuh ratus kali. Latihan selama tiga puluh menit bukanlah sesuatu yang tidak dapat kita capai. Namun, jarang sekali ada orang yang terus melanjutkan latihan ini selama beberapa dekade tanpa jeda, sama halnya seperti sungai yang mengalir terus-menerus.
Orang yang dikreditkan dengan rekor jumlah pelafalan Odaimoku terbanyak ini berusia lebih dari delapan puluh tahun. Di siang hari, ia berada di ladang untuk melakukan pekerjaan bertani. Saat ia lelah menjelang sore, ia kembali ke rumah.
"Anda melafalkan Odaimoku berulang-ulang kali. Anda adalah teladan yang harus diikuti oleh orang lain." Inilah pujian yang saya berikan setiap kali saya menyerahkan kepadanya sertifikat pencapaian melafalkan Odaimoku 10 ribu kali.
Namun sejujurnya, ia melafalkan Odaimoku jauh lebih banyak daripada yang ditunjukkan oleh rekornya karena ia melafalkannya secara terus-menerus, baik saat sedang bekerja di ladang atau berjalan di jalan.
Tiada Batas
Tidak ada batasan dalam melafalkan Odaimoku. Kita tidak dapat mengklaim bahwa kita telah menyelesaikan praktik melafalkan Odaimoku hanya karena kita telah melafalkannya sekian dan sekian kali.
Kita tidak menyadari akan keberadaan udara meskipun kita hidup di dalamnya, serta menghirup dan mengembuskannya tanpa henti. Betapa menakjubkannya bisa terus melafalkan Odaimoku sepanjang hari!
VIII
Mari Kita Penuhi Bumi dengan Odaimoku
Saat kita melafalkan Odaimoku, Buddha melimpahkan welas asih dan kebijaksanaan-Nya kepada kita. "Jika kita menjalani kehidupan dengan selalu menjaga welas asih dalam pikiran kita, kita akan dapat memasuki dunia kebijaksanaan Buddha." Demikian yang dipaparkan dalam Sutra Teratai. Kalimat dari sutra ini adalah moto saya.
Kebijaksanaan Buddha
Kebijaksanaan Buddha bukanlah jenis kebijaksanaan yang kita pelajari di sekolah atau yang diperoleh dengan membaca buku. Kebijaksanaan-Nya menunjukkan kepada kita cara hidup yang sejati. Sering diklaim bahwa orang tua adalah sumber kebijaksanaan. Karena pengalaman hidup mereka yang kaya, kehidupan sehari-hari mereka mencerminkan cara hidup yang sejati, meskipun mungkin tidak bersifat teoretis.
Kolom ini merupakan bagian kedelapan dan terakhir dari seri, "Odaimoku: Makna dan Manfaatnya." Yang ditunjukkan dalam seri ini adalah pelajaran-pelajaran yang saya pelajari dari mereka yang telah lama terlibat dalam praktik pelafalan Odaimoku. Mari kita tinjau kembali masing-masing pelajaran tersebut.
"Melafalkan Odaimoku" bagi kita berarti:
- hidup sesuai dengan kebenaran alam semesta;
- dilahirkan kembali sebagai manusia dan menjalani kehidupan yang manusiawi;
- mempraktikkan bakti kepada orang tua;
- menerima manfaatnya dalam bentuk nyata;
- tidak hanya berdoa untuk diri sendiri melainkan juga berdoa demi orang lain;
- menebus dosa-dosa sendiri;
- menyadari arti Odaimoku yang sebenarnya dengan melafalkannya berulang kali;
- dianugerahi welas asih dan kebijaksanaan Buddha.
Manfaat yang Tak Terbatas
Manfaat dan kebajikan dari Odaimoku tidak terbatas pada hal-hal yang disebutkan di atas saja. Ketika kita melafalkan Odaimoku berulang-ulang hingga tak terhingga, kita akan dilimpahi dengan manfaat dan kebajikan yang tak terhitung jumlahnya.
Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kita tidak akan menerima manfaat atau kebajikan dari Odaimoku berdasarkan keinginan kita sendiri. Ketika kita terus mempraktikkan pelafalan Odaimoku, kita menerima manfaat dalam proses yang alamiah, dan ketika kita dihadapkan pada kesulitan hidup yang besar, manfaat yang kita terima akan terbukti sangat menakjubkan.
Kita sering berdoa kepada Buddha dan para dewa pelindung, "Semoga musibah besar diperkecil menjadi musibah kecil, dan musibah kecil ditiadakan sama sekali." Sekalipun kita tidak melafalkan kalimat ini, segalanya akan menjadi tepat seperti ini saat kita terus melafalkan Odaimoku.
Ketergantungan pada Buddha
Ketika kita memercayai hal-hal seperti ini, dan berkonsentrasi pada praktik pelafalan Odaimoku, kita akan bergantung pada Buddha dan mampu menyucikan pikiran kita sendiri serta pikiran orang lain.
Seiring penyebaran Odaimoku ke seluruh penjuru dunia, bumi ini disucikan dan kedamaian dunia ditegakkan.
NICHIREN SHONIN
| TAHUN | TANGGAL | USIA | PERISTIWA |
|---|---|---|---|
| 1222 | 16 Feb. | Lahir di Kominato, yang saat ini merupakan Prefektur Chiba. | |
| 1233 | 12 Mei | Dikirim ke Kuil Seichoji di Gn. Kiyosumi. | |
| 1237 | 15 | Ditahbiskan oleh Guru Dozen. Diberi nama pendeta Rencho. | |
| 1238 | 16 | Mempelajari Zen dan Budisme Tanah Suci di Kamakura. | |
| 1242 | 20 | Belajar di Kuil Enryakuji Sekte Tendai di Gn. Hiei, yang sekarang adalah Prefektur Shiga dan berbagai kuil besar lainnya. Nissho menjadi seorang murid. | |
| 1253 | 31 | Kembali ke Kuil Seichoji. Menyatakan keyakinannya dengan melafalkan "Namu Myoho Renge Kyo" untuk pertama kalinya di Gn. Kiyosumi pada tanggal 28 April. | |
| 1254 | Nichiro menjadi seorang murid. | ||
| 1258 | 36 | Meninggalkan Kamakura menuju Kuil Jissoji, Prefektur Shizuoka, untuk mempelajari Tripitaka (seluruh kitab suci Buddhisme). | |
| 1259 | 37 | Nikko menjadi seorang murid. | |
| 1260 | 38 | Kembali ke Kamakura. Menulis "Rissho Ankokuron" ("Risalah untuk Menyebarkan Kedamaian di Seluruh Negeri dengan Menegakkan Dharma Sejati") 16 Juli, Mempersembahkan "Rissho Ankokuron" kepada Pemerintah Kamakura. 27 Agust, Massa menyerang desanya di Matsubagayatsu, Kamakura. | |
| 1261 | 12 Mei | 39 | Ditangkap dan diasingkan ke Ito, Prefektur Shizuoka. |
| 1263 | 22 Feb. | 41 | Diampuni dari pengasingan di Izu dan kembali ke Kamakura. Nichiji menjadi seorang murid. |
| 1264 | 11 Nov. | 42 | Bahaya di Komatsubara, yang saat ini merupakan Prefektur Chiba. |
| 1271 | 12 Sep. | 49 | Lolos dari eksekusi di Tatsunokuchi. 28 Nov. Diasingkan ke Pulau Sado. |
| 1272 | Feb. | 50 | Menulis "Kaimokusho" ("Membuka Mata"). |
| 1273 | Apr. | 51 | Menulis "Kanjin-honzon-sho" ("Perenungan Spiritual dan Objek Pemujaan"); mewahyukan Mandala Agung Gohonzon. |
| 1274 | Feb. | 52 | Diampuni dari pengasingan Sado. Kembali ke Kamakura pada bulan Maret. 17 Mei, Meninggalkan Kamakura menuju Gn. Minobu. |
| 1275 | 53 | Menulis "Senji-sho" ("Memilih Waktu yang Tepat"). | |
| 1276 | 54 | Menulis "Hoon-jo" ("Tentang Pelunasan Utang Budi"). | |
| 1282 | 8 Sep. | 60 | Meninggalkan Gn. Minobu untuk pemulihan. 18 Sep. Tiba di kediaman Ikegami Munenaka, Ikegami, Tokyo. 13 Okt. Memasuki Nirwana. |
| 1283 | Mei | Abu diabadikan di Gn. Minobu. |
Catatan Tambahan
"Ketika kita dihadapkan pada kesulitan hidup yang besar, manfaat yang kita terima dengan melafalkan Odaimoku terbukti sangat menakjubkan."
Rev. Taizui Kikuchi, kepala pendeta Kuil Hokkeji di Kyushu, adalah seorang pendeta Nichiren yang memiliki keyakinan ini, yang hampir tidak ada bandingannya. Ia mempraktikkan pelafalan Odaimoku tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga membujuk orang lain untuk mempraktikkan pelafalan Odaimoku dengan keyakinan yang sama.
Inilah alasan mengapa saya memintanya untuk menulis serangkaian artikel dengan tema "Odaimoku - Makna dan Manfaatnya," di Nichiren-shu News, yang diterbitkan bersama oleh Shumuin, markas besar administratif Ordo Buddhisme Nichiren dan Kaigai Fukyo Koenkai, Asosiasi Promosi Penyebaran Luar Negeri. Serial ini dimuat di surat kabar dwibulanan sebanyak delapan kali, yang dimulai dari edisi bulan Agustus 1994.
Naskah aslinya ditulis dalam bahasa Jepang, yang diterjemahkan oleh saya sendiri, dan direvisi oleh Rev. Kyotsu Hori. Rev. Genichi Oikawa mengompilasi seri ini ke dalam buklet ini.
Oleh Keiryu Shima
Rev. Taizui Kikuchi
Menteri Tetap Kuil Hokkeji,
Prefektur Oita, Jepang
Lulusan Universitas Rissho
Uskup Prefektur Oita
Uskup Distrik Kyushu
Presiden Nichiren Shu Newspaper Co.
Saat ini menjabat sebagai Direktur Nichiren Shu Newspaper Co.
Odaimoku
Diterbitkan pada tahun 1996
oleh Asosiasi Promosi Penyebaran Luar Negeri Nichiren Shu
c/o Joenji 7-12-5 Nishi-shinjuku, Shinjuku-ku, Tokyo 160 Jepang
Ilustrasi oleh Kikuko Iwano
Tata Letak oleh Molt Inc., Tokyo, Jepang
Dicetak oleh Miyano Printing Inc., Tokyo, Jepang
©Promosi Penyebaran Luar Negeri Nichiren Shu
ASOSIASI PROMOSI PENYEBARAN LUAR NEGERI NICHIREN SHU